Tanam
Paksa (Cultuurstelsel)
Pengertian Tanam Paksa
Tanam paksa pada
zaman penjajahan Belanda disebut dengan istilah cultuurstelselsistem Tanam Paksa adalah salah satu kebijakan
dari pemerintah kolonial Belanda dari tahun 1830 sampai dengan 1870.
Sistem Tanam Paksa ini membebankan petani dan rakyat yang tidak memiliki lahan,
karena pengerjaan sistem ini mengerahkan
masyarakat untuk menanam tanaman yang laku di Eropa.
Sumber:https://www.suara.com/news/2021/08/26/132241/sejarah-tanam-paksa-dari-latar-belakang-peraturanhingga-penyimpangan
Petani yang awalnya punya waktu lebih banyak untuk
bertani, dibebankan untuk menanam tanaman-tanaman tersebut. Makanya, rakyat
pribumi mengartikan cultuurstelsel
dengan sebutan tanam paksa karena pengerjaan
penanaman tersebut dilakukan secara terpaksa dan bukan suka rela.
Terus, di manakah tanam paksa
dilaksanakan?
Sistem
tanam paksa dilaksanakan dan diterapkan di sebagian besar daerah di
Indonesia, khususnya pulau Jawa. Daerah-daerah
yang subur di wilayah pedalaman dibuka menjadi lahan perkebunan untuk menanam
tanaman yang diperintahkan.
Nah, jenis tanaman yang menjadi fokus sistem tanam
paksa yaitu tanamantanaman ekspor yang
laku di Eropa. Jadi, hasil panen dari tanaman-tanaman tersebut dibawa ke Eropa
untuk dijual. Tanamannya antara lain kopi,
teh, tembakau, indigo atau nila,
dantebu yang kemudian diolah menjadi
gula.
Latar Belakang dan Tujuan Tanam Paksa
Sistem
tanam paksa berkaitan dengan Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Pemerintah Hindia Belanda pada akhir tahun
1829 mulai terkuras uangnya. Salah satu sebab utamanya adalah ongkos atau biaya
perang yang membengkak. Di wilayah Indonesia sendiri terjadi dua perang
besar, yaitu Perang Jawa dan Perang Padri di Sumatra Barat. Dua perang ini tuh
bener-bener buat pusing Belanda.
Selain dua perang di Indonesia, Belanda juga
menghadapi krisis dalam negrinya. Salah satu daerah Belanda yaitu Belgia memisahkan diri dari Belanda.
Alhasil, kas negara Belanda menjadi semakin kempes deh. Nah, untuk segera
memulihkan kondisi kas negara, pemerintah
Belanda dan pemerintah kolonial ngeluarin kebijakan tanam paksa ini buat
ngisi kas negara.
Siapa yang menerapkan tanam paksa?
Tokoh yang
mengusulkan dilaksanakannya sistem tanam paksa adalah Johanes van den Bosch
yang kemudian menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada tahun 1830. Pada
tahun itu juga, tanam paksa dimulai.
Kayak yang udah dijelasin di atas,
tujuan pemerintahan kolonial belanda
melaksanakan sistem tanam paksa adalah mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya
untuk masuk ke kas negara.
Selain itu, tujuan tanam paksa ini berkaitan erat
dengan tanaman ekspor yang wajib ditanam oleh masyarakat. Diharapkan, tanaman-tanaman ekspor akan laku di pasar
Eropa dan pemerintah akan mendapatkan penghasilan dari penjualan tersebut.
Terus-terus bagaimana tanam paksa
dilaksanakan ke masyarakat?
Penerapan Kebijakan Tanam Paksa
Selain aturan mengenai tanaman ekspor yang wajib
ditanam, pemerintah juga mengatur lahan
dan waktu kerja bagi rakyat.
Peraturan ini dibuat untuk menjaga agar pelaksanaan tanam paksa sesuai dengan
tujuan pemerintah.
1. Pemilik tanah,
wajib menanam 20% atau 1/5 dari luas
tanah yang dimiliki untuk tanaman ekspor.
2. Untuk
rakyat yang tidak punya tanah, maka harus
bekerja 65 hari dalam setahun.
3. Jika terjadi kegagalan panen, maka tanggung jawab ada di pemerintah.
4. Seluruh hasil dari penanaman, wajib diserahkan kepada pemerintah kolonial melalui bupati atau pemimpin lokal setempat.
Sumber https://www.ruangguru.com/blog/tanam-paksa
Nah, masalahnya nih, perbedaan
antara ketentuan pokok sistem tanam paksa dengan pelaksanaannya adalah masalah
yang dihadapi, baik oleh petani maupun pemerintah kolonial.
Misalnya, dalam beberapa kasus, luas tanah yang ditanami komoditas ekspor
lebih dari 20% dari lahan, hari kerja rakyat tanpa tanah lebih dari 65 hari dalam setahun, dan kegagalan panen menjadi tanggung jawab
petani. Duh, ternyata penerapannya malah bikin repot ya…
Tapi dalam penerapan kebijakan ini, ada yang protes ga sih? Dan siapa penentang tanam paksa?
Pada akhir tahun 1840-an, Baron van Hovell seorang pendeta yang menentang pelaksanaan sistem
tanam paksa adalah contoh dari tokoh penentang. Tanam paksa dianggap merupakan satu bentuk pelanggaran pada hak-hak
asasi manusia. Kalangan yang banyak bersuara tentang pelanggaran kebijakan
ini adalah orang-orang dari partai
atau kalangan liberal Belanda.
Selain Baron van Hovell, pada tahun
1860 juga terbit satu buku novel
berjudul Max
Havelaar (1860) yang ditulis oleh
seorang bernama Multatuli. Siapa tuh Multatuli?
Multatuli ini merupakan nama pena dari mantan
pejabat Belanda di Lebak, Banten bernama
Eduard Douwes Dekker. Dalam bukunya, Ia menuliskan penderitaan rakyat Lebak atas kebijakan penanaman kopi.
Bukan hanya soal kebijakan
kolonial Belanda, Eduard Douwes Dekker
juga mengatakan bahwa bupati Lebak membuat penderitaan rakyat menjadi semakin
parah.
Pada akhirnya sistem
tanam paksa dihapuskan pada 1870 karena desakan dan perubahan politik di
Belanda yang telah dikuasai oleh partai liberal.
Berakhirnya tanam paksa justru
menjadi babak baru dalam sejarah
kolonialisme di Indonesia karena eksploitasi
sumber daya alam bukan hanya dilakukan oleh pemerintah tapi juga oleh
perusahaan swasta dengan modal yang lebih besar.
Hm… setelah berlangsung selama 40 tahun dari 1830
sampai dengan 1870, tanam paksa telah berpengaruh bagi masyarakat Jawa dan
Indonesia pada umumnya. Tapi jadi kepikiran, apa akibat tanam paksa?
Dampak Tanam Paksa
Sumber :https://sumbersejarah1.blogspot.com/2017/09/aturan-dan-ketentuansistem-tanam-paksa.html
Dampak positif tanam paksa bagi penduduk jawa adalah dikenalkannya
tanaman-tanaman ekspor yang laku di dunia. Karena, kebanyakan dari tanaman
ekspor tersebut bukan asli dari Indonesia. Misalnya nih, kopi berasal dari Afrika dan teh
yang berasal dari Asia Timur (Cina, Korea, dan Jepang).
Walaupun dua tanaman itu sudah ada jauh sebelum
tanam paksa, kebijakan ini memberikan
alternatif dan pengetahuan bagi para petani lokal untuk membudidayakan bibit
dan tanaman ekspor ini dengan iklim dan tanah di Jawa. Tentunya hal ini menjadi
dampak positif tanam paksa karena budidaya tanaman ekspor tersebut terus
berlangsung.
Di sisi lain, dampak negatif dari tanam paksa adalah sistem yang sangat membebankan
pada rakyat dan para pekerja. Uang yang dihasilkan dari tanam paksa
langsung menjadi milik negara Belanda dan tidak
langsung terasa oleh rakyat biasa yang mungkin mendapatkan upah kecil.
Hal ini yang kemudian menjadi perhatian kaum
liberal di Belanda. Mereka merasa bahwa apa yang terjadi di Hindia Belanda
merupakan satu bentuk kenyiksaan bagi rakyat jajahan. Beberapa dari mereka kemudian mengusulkan untuk
memberikan pendidikan bagi masyarakat Hindia Belanda.
Wah wah wah… Tanam paksa ternyata ada hubungannya
sama Perang Diponegoro ya. Tapi, kita jadi bisa jawab nih pertanyaan yang muncul
di awal tadi kenapa sih pemerintah kolonial itu nguras sumber daya alam?
Jawabannya karena pemerintah kolonial ingin
mendapatkan keuntungan dari kekayaan alam itu. Tapi masalahnya, rakyat biasa
tidak terkena dampak secara langsung dari kekayaan alam tersebut. Rakyat hanya
diminta bekerja sesuai dengan perintah dari pemerintah tanpa mendapatkan hak
yang seharusnya didapat.



No comments:
Post a Comment