EIC
( East India Company )
1.1 Pengertian
EIC
merupakan kongsi dagang milik Inggris yang didirikan oleh Ratu Elizabeth I pada
31 Desember 1600 di London. EIC dibentuk untuk melakukan perdagangan di kawasan
Asia atas nama bangsa Inggris.
EIC
memiliki tujuan perdagangan di wilayah Asia atau pada saat itu Hindia Timur,
yaitu wilayah India, Cina, dan Asia Tenggara.
Tujuan
EIC dijelaskan dalam buku berjudul Sejarah Asia Tenggara yang disusun oleh
Yoseph Vincent Panggabean (2020: 127).
Dalam
buku tersebut, tertulis bahwa pada tahun 1600, EIC dibentuk dengan tujuan untuk
mengadakan hubungan dagang dengan beberapa kepulauan rempah-rempah yang berada
di Hindia Timur.
1.2 Latar Belakang
Imperium
perdagangan di Hindia Timur (selanjutnya Hindia Belanda) telah eksis sejak abad
ke-17. Sebelum VOC berdiri pada 1602, telah hadir lebih dulu kongsi dagang
Inggris bernama East India Company (EIC) yang didirikan di London pada 31
Desember 1600. Ratu Elizabeth I memberikan hak istimewa berupa izin pendirian
kongsi dagang tersebut.
Sir
James Lancaster dipilih sebagai pemimpin pelayaran pertama EIC. Pada Juni 1602,
ia tiba di Aceh yang selanjutnya berlayar menuju Banten. EIC memperoleh izin
mendirikan kantor dagang di Banten yang terkenal sebagai bandar lada terkaya.
Lancaster pun kembali ke Inggris dengan membawa lada berjumlah besar.
Pelayaran
kedua EIC dilakukan pada 1604 di bawah pimpinan Sir Henry Middleton. Ia
berhasil menjangkau Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Namun, EIC mengalami
petaka lantaran di wilayah tersebut mendapat serangan dari VOC. Akibatnya,
dimulailah persaingan antara Inggris dan Belanda dalam memperoleh
rempah-rempah.
Selama
tahun 1611–1617 orang-orang Inggris mendirikan kantor dagang EIC di sejumlah
wilayah Hindia Belanda di antaranya Sukadana (Kalimantan Barat Daya), Makassar,
Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi. Persaingan antara Inggris-Belanda
kian sengit saat orang-orang Belanda menganggap cita-cita monopoli mereka telah
meleset.
Di
sisi lain, kondisi global di Eropa pada 1620 memaksa Belanda melakukan kontak
kerja sama singkat dengan Inggris. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah
Indonesia Modern 1200–2004, hal tersebut dilakukan sebagai pertimbangan
diplomatik di Eropa saat itu.
Inggris
diizinkan mendirikan kantor dagangnya di Ambon. Namun, pada 1623 terjadi
pembantaian Amboyna (Ambon) yang mengubur seluruh gagasan atas kerja sama
keduanya. Peristiwa tersebut mengakibatkan sepuluh orang Inggris dan sepuluh
orang Jepang serta seorang Portugis dihukum mati.
Meski
tak sampai menciptakan peristiwa yang lebih tegang, namun pertikaian diplomatik
di Eropa tak terhindari. Selain itu, Inggris sejak saat itu secara diam-diam
menarik diri dari wilayah Hindia Belanda, kecuali Banten. Banten telah menjadi
pusat aktivitas bagi orang-orang Inggris dalam kurun waktu lama hingga 1682.
Perhatian Inggris selanjutnya lebih difokuskan pada wilayah-wilayah Asia
lainnya.
Mengenai
EIC, The Archives of the Dutch East India Company VOC and the Local
Institutions in Batavia Jakarta, koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia,
menulis bahwa di awal pendiriannya EIC belum cukup mampu menandingi VOC. Kala
itu EIC belum memiliki kas keuangan yang memadai, struktur organisasi yang
andal, serta kurangnya dukungan dari pemerintah Inggris semakin membuat EIC
tidak cukup berhasil mengungguli VOC.
Meski
perdagangan di Hindia Belanda masih dimonopoli oleh VOC, namun pada akhir abad
ke-17 EIC tumbuh pesat sebagai pesaing VOC yang patut disegani. Sepanjang abad
ke-18 EIC bahkan mampu mengungguli VOC di sejumlah bidang.
Pada
perkembangannya, EIC turut melakukan ekspansi bisnisnya ke sejumlah wilayah
Hindia Belanda, salah satunya Bengkulu. Hubungan antara Bengkulu dan EIC
bermula dari perjanjian pada 1685 antara penguasa Selebar dan EIC. Atas
perjanjian tersebut, EIC mulai menjalankan kesepakatan dengan kerajaan-kerajaan
di wilayah Bengkulu. Di Bengkulu, EIC mencapai keberhasilan di mana perdagangan
di seluruh wilayah tersebut, termasuk Mukomuko, berhasil dipegang oleh EIC
hingga tahun 1752.
Pada
pertengahan dekade tahun 1760, EIC menyadari akan kemajuan kongsi dagangnya.
Salah satu perdagangan yang dijalankan EIC ialah candu. Pada tahun-tahun
tersebut, perdagangan candu antara Bengal dan Hindia Belanda mengalami
kemajuan.
Atas
kemajuan perdagangan opium EIC di Bengkulu, diresmikanlah Bencoolen Opium
Society. Keberhasilan EIC di Bengkulu kian menampakkan hasilnya sebab selama
tahun 1771–1779 Bengkulu berada di bawah kekuasaan EIC bukan VOC.
Tak
hanya di Bengkulu, EIC juga turut berperan dalam upaya monopoli perdagangan di
wilayah Sumatra lainnya. Dalam sebuah laporan tahun 1840, John Anderson,
seorang pegawai EIC yang menjadi duta Inggris di Penang, Singapura, dan Malaka,
menulis terkait upaya menjalin kontak dagang dengan Aceh.
Guna
memenuhi kepentingan pemerintah Inggris, EIC berupaya mencari wilayah dagang di
pantai timur Sumatra. EIC melakukannya dengan memperbarui hubungan dagang
dengan Aceh yang sebelumnya sempat pasang surut. Aceh dipilih karena kerajaan
makmur dengan posisi geografis yang sangat strategis.
Sama
seperti VOC, ekspansi yang dilakukan EIC di sejumlah wilayah juga bertujuan
lain. Dengan mendirikan kantor dagangnya di berbagai wilayah, Inggris hendak
menunjukkan kedudukan dan meneguhkan legitimasi kekuasaannya, tak hanya secara
ekonomi namun juga politik.*
1.3 Dampak
Dominasi Ekonomi
dan Perdagangan
EIC didirikan pada 31
Desember 1600 dengan tujuan monopoli perdagangan rempah, teh, tekstil, dan
barang mewah di Asia, khususnya India dan Asia Tenggara. Perusahaan ini
berkembang pesat dan menguasai sebagian besar perdagangan utama, bahkan
memiliki angkatan perang dan wilayah administratif sendiri. Pada abad ke-18,
EIC tidak hanya menjadi perusahaan dagang besar, tetapi juga berperan sebagai
kekuatan politik di India setelah kemenangan dalam Pertempuran Plassey 1757,
yang menandai penegakan kekuasaan Inggris secara langsung di Benggala dan
wilayah sekitarnya. Dengan kekuasaan ini, EIC mengalihkan sistem agraria
tradisional demi kepentingan ekspor dan monopoli perdagangan, menyebabkan
ketimpangan dan kemiskinan di berbagai wilayah operasionalnya


No comments:
Post a Comment